WAISAI, RajaAmpatNews – Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menyambut hangat kunjungan delegasi internasional dalam rangka ReSea Global Seascape Exchange: Learning from the Bird’s Head Seascape atau Pembelajaran dari Bentang Laut Kepala Burung, yang berlangsung di Korpak Resort, Waisai, Raja Ampat, Selasa (10/2/2026) malam.
Kunjungan ini menandai pengakuan dunia internasional terhadap keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi laut di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird’s Head Seascape (BHS), yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Meidiarti Kasmidi manager Program Raja Ampat Konservasi Indonesia, menjelaskan bahwa pada Februari 2026 wilayah BLKB dipercaya menjadi tuan rumah pertukaran pengetahuan tingkat global melalui program internasional ReSea (Regenerative Seascapes for People, Climate, and Nature).
“Program ReSea memilih Bentang Laut Kepala Burung sebagai model percontohan dunia dalam penguatan ketahanan iklim dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya bagi negara-negara Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat,” ujar Meydi kepada media.
Menurut dia, para delegasi yang hadir merupakan pejabat tinggi negara dan pengambil kebijakan dari kawasan Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat yang ingin melihat secara langsung praktik keberhasilan pemerintah daerah dan masyarakat Papua dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.

Beberapa aspek utama yang dipelajari para delegasi antara lain efektivitas pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), penerapan sistem pendanaan berkelanjutan seperti retribusi pariwisata, Blue Abadi Fund (BAF), hingga skema debt for nature swap. Selain itu, peran kearifan lokal dan masyarakat adat, termasuk praktik sasi dan keterlibatan perempuan dalam menjaga laut, turut menjadi perhatian utama.
“Kunjungan ini menjadi bukti bahwa kerja keras masyarakat dan pemerintah di BLKB, khususnya Raja Ampat, telah mendapat pengakuan dunia internasional,” kata Meydi.
Rombongan delegasi terdiri dari pejabat setingkat menteri, sekretaris negara, direktur jenderal, hingga gubernur dari tujuh negara sahabat, yang didampingi oleh lima mitra internasional.
Delegasi Madagaskar dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Manesimana Michael Fanomezantsoa, didampingi Direktur Jenderal Ekonomi Biru.
Dari Mauritius hadir Menteri Muda Agro-industri, Ketahanan Pangan, Ekonomi Biru, dan Perikanan Gilles Fabrice David, bersama pejabat Divisi Ekonomi Biru dan Perikanan.
Sementara itu, Delegasi Komoro diwakili Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan perwakilan Gubernur Pulau Moheli.
Delegasi Tanzania dan Zanzibar dihadiri Direktur Konservasi Laut Zanzibar serta Wakil Direktur Perikanan Tanzania.
Delegasi Kenya diwakili Komite Eksekutif Wilayah Kilifi untuk sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan ekonomi biru, serta Asisten Direktur Ekonomi Biru Nasional.
Dari Mozambik hadir Direktur Provinsi Inhambane untuk Pengembangan Wilayah dan Lingkungan.
Adapun Delegasi Sri Lanka dihadiri Direktur Konservasi Satwa Liar dan Direktur Sekretariat Keanekaragaman Hayati.
Dukungan Organisasi Internasional
Kunjungan ini difasilitasi oleh aliansi organisasi internasional bersama Konservasi Indonesia yang telah lama bermitra dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Sejumlah mitra utama yang terlibat antara lain Conservation International (CI), IUCN Great Blue Wall (GBW), Mission Inclusion, UNECA (Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika), serta Fauna & Flora International (FFI). Para pimpinan regional, direktur, dan manajer dari masing-masing lembaga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Konservasi Indonesia, berharap kunjungan ini dapat membuka ruang dialog dan memperkuat hubungan kerja sama global, khususnya dalam pengelolaan Marine Protected Area (MPA) berbasis masyarakat.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













