Raja Ampat Jadi Lokasi Aksi Konservasi, Utusan Khusus Presiden Turun Langsung ke Lapangan bersama Komunitas Lokal.

banner 120x600

WAISAI, RajaAmpatNews – Raja Ampat yang selama ini dikenal dunia sebagai salah satu episentrum keanekaragaman hayati laut terbesar di planet bumi kini menghadapi tantangan ekologis yang semakin nyata. Tekanan aktivitas manusia, pertumbuhan kunjungan wisata yang belum sepenuhnya terkendali, serta dampak perubahan iklim global mulai memberikan ancaman serius terhadap keberlanjutan ekosistem laut, khususnya terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan bawah laut kawasan tersebut.

Merespons kondisi itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, turun langsung ke lapangan dengan melakukan aksi penanaman terumbu karang di perairan Yenbekwan, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini dilaksanakan bersama komunitas lokal The Sea People, sebagai bagian dari komitmen nyata negara dalam menjaga kelestarian laut sekaligus mengarahkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Aksi konservasi tersebut merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Republik Indonesia yang menegaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata nasional harus berbasis konservasi dan perlindungan ekosistem, terutama di wilayah dengan nilai ekologis strategis seperti Raja Ampat.

“Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata kelas dunia, tetapi rumah bagi ekosistem laut yang sangat rapuh dan masyarakat yang hidupnya bergantung langsung pada laut. Konservasi harus dilakukan sekarang, bukan nanti,” tegas Zita Anjani di sela-sela kegiatan penanaman terumbu karang.

Penanaman terumbu karang dilakukan di kawasan pesisir yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat lokal tempat ikan berkembang biak, nelayan menggantungkan mata pencaharian, serta sektor pariwisata bahari bertumpu. Kerusakan terumbu karang, menurut Zita, tidak hanya berdampak pada ekologi laut, tetapi juga menjadi ancaman langsung terhadap keberlanjutan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat pesisir Raja Ampat.

Selain aksi lapangan, Zita Anjani juga menggelar dialog bersama komunitas The Sea People dan warga Kampung Yenbekwan. Dalam dialog tersebut, dibahas praktik SASI, sebuah kearifan lokal masyarakat adat Papua yang mengatur pembatasan pemanfaatan sumber daya laut dalam periode tertentu demi menjaga keseimbangan alam. Praktik ini dinilai sejalan dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menghormati peran masyarakat adat sebagai penjaga ekosistem.

“Kearifan lokal seperti SASI bukan hanya warisan budaya, tetapi solusi nyata dalam menjaga laut. Negara harus hadir untuk memperkuat praktik-praktik baik yang sudah dijalankan masyarakat,” ujar Zita.

Dari sisi komunitas, meningkatnya perhatian pemerintah pusat terhadap perlindungan laut Raja Ampat dinilai sangat penting, terutama di tengah kekhawatiran akan eksploitasi berlebihan dan tekanan ekonomi yang kerap mengabaikan daya dukung lingkungan.

“Kami ingin laut tetap hidup, bukan hanya indah di foto. Konservasi ini tentang masa depan anak-anak kami, tentang warisan yang ingin kami jaga,” ungkap salah satu perwakilan warga Kampung Yenbekwan.

Melalui kegiatan ini, UKP Pariwisata menegaskan kembali bahwa arah pembangunan pariwisata Indonesia ke depan tidak boleh mengorbankan ekosistem dan masyarakat lokal. Raja Ampat menjadi simbol sekaligus pengingat bahwa menjaga laut adalah tanggung jawab bersama antara negara, komunitas, dan generasi hari ini, demi memastikan masa depan yang berkelanjutan dan dapat diwariskan secara utuh kepada generasi mendatang.

Writer: Doni Kumuai II Editor : Petrus Rabu