Waisai, RajaAmpatNews.com– Uskup Keuskupan Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., mengajak umat Katolik memaknai masa Prapaskah sebagai perjalanan iman yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan untuk mencapai kemuliaan bersama Kristus.
Pesan tersebut disampaikannya saat memimpin Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah III di Gereja Katolik Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Minggu (8/3/2026). Perayaan misa yang dipimpin langsung oleh Uskup Hilarion tersebut dihadiri ratusan umat Katolik dari Waisai dan sekitarnya.
Dalam homilinya, Uskup Hilarion mengajak umat merenungkan kembali perjalanan penderitaan Yesus Kristus yang berpuncak pada kebangkitan-Nya. Menurutnya, masa Prapaskah merupakan waktu yang tepat bagi umat untuk memahami kisah keselamatan yang dialami Yesus, mulai dari penderitaan, penangkapan, penyaliban hingga kebangkitan.
“Kita merenungkan perjalanan penderitaan Tuhan Yesus sampai pada kebangkitan-Nya, supaya kita memahami makna keselamatan yang diberikan Tuhan kepada manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum memasuki Yerusalem, Yesus terlebih dahulu membawa para murid naik ke Gunung Tabor dalam peristiwa yang dikenal sebagai Transfigurasi atau pemuliaan Tuhan. Di sana Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di hadapan para murid bersama dua nabi besar Israel, Musa dan Elia. Para murid, khususnya Petrus, begitu terpesona hingga ingin tetap tinggal di gunung tersebut. Namun Yesus mengajak mereka turun kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem, tempat di mana Ia akan menghadapi penderitaan dan penyaliban.
Setibanya di Yerusalem, Yesus justru disambut meriah oleh banyak orang dengan sorak-sorai “Hosana bagi Putra Daud”. Mereka menghamparkan ranting-ranting di jalan sebagai tanda penghormatan. Peristiwa ini kemudian dikenang oleh Gereja sebagai Minggu Palma. Namun sambutan meriah itu tidak berlangsung lama karena rangkaian peristiwa berikutnya bergerak menuju penderitaan Yesus, mulai dari pengkhianatan Yudas Iskariot, pengadilan oleh Pontius Pilatus, hingga penyaliban di kayu salib.

Uskup Hilarion menegaskan bahwa masa Prapaskah mengajarkan umat bahwa hal-hal baik dalam kehidupan tidak datang begitu saja, melainkan melalui perjuangan dan pengorbanan.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu, masa puasa ini mengajarkan bahwa apa-apa yang baik dalam hidup tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui perjuangan, bahkan penderitaan, sengsara hingga kematian. Tidak ada kemenangan yang diberikan secara gratis,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kemenangan Kristus sendiri harus melalui jalan salib—jalan penderitaan yang sekaligus menjadi jalan keselamatan bagi umat manusia.
Menurutnya, dalam terang Injil hal itu membantu umat memahami makna “air hidup” yang dijanjikan Yesus ketika bertemu dengan perempuan Samaria di Sumur Yakub di Kota Sikar.
“Kalau engkau minum air yang Aku berikan, engkau tidak akan haus lagi. Bahkan dalam bahasa kebangkitan, engkau tidak akan mati lagi, tetapi memperoleh hidup yang kekal,” ungkapnya.
Uskup Hilarion juga mengingatkan bahwa perjalanan hidup manusia tidak selalu mudah. Ia menyinggung kisah pencobaan Yesus yang berpuasa selama 40 hari di Padang Gurun sebagai gambaran bahwa kehidupan manusia penuh tantangan, kerapuhan, dan ketidakpastian. Ia juga mengutip bacaan Kitab Keluaran yang menggambarkan bagaimana umat Israel masih mempertanyakan keberadaan Tuhan meskipun telah mengalami begitu banyak rahmat.
Namun, kata dia, Santo Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menegaskan bahwa harapan tidak pernah mengecewakan. Paulus sendiri mengalami perubahan besar dalam hidupnya, dari Saulus menjadi Paulus, dari seorang penganiaya menjadi pewarta Injil yang gigih.
Uskup Hilarion menambahkan bahwa simbol “air hidup” juga berkaitan erat dengan Sakramen Baptis. Dalam tradisi Kitab Suci, air melambangkan penyucian, penguatan, dan kehidupan baru.
“Air itu membersihkan, menyucikan dan memberi kehidupan. Air yang diberikan Yesus kepada perempuan di Sumur Yakub adalah air kehidupan yang tidak akan membuat orang haus dan mati lagi,” jelasnya.
Pada akhir perayaan Ekaristi, Uskup Hilarion juga memperkenalkan tiga imam yang akan mengabdi di Keuskupan Manokwari–Sorong. Ketiga imam tersebut berasal dari berbagai keuskupan di Indonesia, yakni satu imam dari Keuskupan Agung Kupang dan dua imam dari Keuskupan Manado. Ia berharap kehadiran para imam tersebut dapat memperkuat pelayanan pastoral di wilayah Keuskupan Manokwari–Sorong, termasuk di daerah-daerah misi seperti Raja Ampat.
Menutup homilinya, Uskup Hilarion mengajak umat menghayati masa Prapaskah bukan sekadar sebagai aturan puasa dan pantang, tetapi sebagai panggilan untuk hidup dalam belas kasih dan kebaikan terhadap sesama.
“Maka marilah kita menghayati sebaik-baiknya, bukan terutama peraturan Prapaskah tetapi penghayatan belas kasih Tuhan melalui kehidupan Putra-Nya Yesus. Belas kasih itu memperkaya kita sehingga pantang dan puasa bukan sekadar peraturan, tetapi menjadi sikap hidup yang bertanggung jawab, peka, peduli, dan setia kawan. Kita dipanggil untuk melakukan yang terbaik dari kebaikan-kebaikan yang kita miliki bagi sesama. Panggilan hidup kita adalah menghadirkan kebaikan—gelombang kebaikan demi kebaikan,” tutupnya.
Writer: Petrus Rabu












