Renungan Mingguan (15 Maret 2026)
Oleh: RD. Ardus Endi*
Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Bersama Gereja sejagat, pada hari ini kita memasuki hari minggu Prapaskah IV dalam kalender Liturgi Tahun A/II. Hari Minggu Prapaskah IV sering disebut Minggu Laetare. Istilah “Laetare” berasal dari Bahasa Latin yang berarti bersukacitalah. Minggu Laetare mengingatkan kita bahwa masa Prapaskah merupakan simbol perjuangan kita umat manusia di dunia untuk mencapai sukacita abadi yang dilambangkan dengan Paskah.
Bertepatan dengan perayaan Laetare ini, Gereja Katolik menempatkan bacaan-bacaan suci yang bertitik fokus pada pewartaan tentang tugas perutusan. Dalam bacaan I (1 Sam. 16:1b.6-7.10-13a), kita mendengar kisah tentang terpilihnya Daud, anak Isai sebagai raja untuk menggatikan raja Saul.
Kisah ini amat menarik lantaran dari sekian banyak anak Isai, hanya Daud yang dipilih Allah. Tujuh anak pertama tidak dipilih, dan pada akhirnya pilihan itu jatuh pada diri Daud. “Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel; tetapi Samuel berkata kepada Isai, mereka ini semuanya tidak dipilih Tuhan” (1Sam. 16:10), dan ketika gilirannya Daud, Tuhan berfirman kepada Samuel, “bangkitlah dan urapilah dia, sebab inilah dia!” (1Sam. 16:12b). Daud dipandang layak oleh Allah dan karena itu ia dipilih menjadi raja.
Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Terpilihnya Daud sebagai raja bisa dimaknai dalam dua hal, yakni sebagai sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab (gabe und aufgabe). Di satu sisi, keterpilihan dirinya sebagai raja tentu merupakan sebuah rahmat istimewa yang diterima Daud dari Allah. Sebab, tanpa terlebih dahulu meminta, mengajukan lamaran, apalagi melakukan pendekatan pribadi atau mengandalkan “orang dalam”, Daud toh terpilih secara istimewa. Dia yang sedang menjalankan rutinitas hariannya sebagai gembala kambing dan domba justru dipilih Allah, sedangkan ketujuh saudaranya yang nota bene sudah siap menerima tugas itu malah tidak terpilih.
Ini benar-benar anugerah besar yang tak terkatakan. Selain sebagai sebuah anugerah, keterpilihan Daud sebagai raja juga dimaknai sebagai sebuah tanggung jawab. Daud memikul tanggung jawab besar sebab ia menggantikan peran Saul sebagai raja atas bangsa Israel.
Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Sama seperti Daud, kita semua pun telah dipilih dan diutus Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya demi menolong dan menyelamatkan sesama. Melalui Sakramen Baptis dan diurapi dengan minyak krisma, kita secara sah dilantik oleh Allah dan dimeterai oleh Roh Kudus untuk menjadi abdi kasih Allah bagi sesama dan dunia sekitar. Kita memang tidak diurapi menjadi raja seperti Daud, akan tetapi lewat tugas dan profesi masing-masing, entah sebagai rohaniwan, biarawati, kepala keluarga, ibu rumah tangga, dokter, guru, tukang ojek dan aneka profesi lainnya, kita diharapkan untuk menghadirkan berkat dan mengalirkan rahmat kepada sesama.
Persis hal inilah yang menjadi inti penegasan Rasul Paulus dalam bacaan II (Ef. 5:8-14). Kepada segenap jemaat di Efesus, Rasul Paulus menggarisbawahi pentingnya menjadi “anak-anak Terang”. “…Hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran” (Ef. 5:8-9). Ungkapan “hidup sebagai anak-anak terang” hendak memperlihatkan satu pesan penting bahwa hidup harus menjadi berkat bagi sesama.
Dengan kata lain, hidup dan karya profesi kita mesti berdaya ubah sekaligus berdayaguna tidak hanya bagi diri kita sendiri, melainkan juga bagi sesama di sekitar kita. Bagi Rasul Paulus, orang yang mampu menjadi “terang” bagi sesama akan selalu mampu menghadirkan kebaikan, selalu berani menegakkan kebenaran, selalu mampu memperjuangkan keadilan serta selalu setia mengalirkan berkat kebahagiaan bagi sesama.
Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Dalam bingkai inilah, kita perlu belajar dari pola dan gaya hidup Yesus, Sang Guru Agung. Dalam seluruh lanskap pastoral-Nya, Yesus selalu hadir sebagai berkat yang berdaya membebaskan semua orang. Ke mana pun Ia pergi dan di mana saja Ia berada, jala keselamatan selalu dibentangkan-Nya, kebahagiaan dan berkat senantiasa dialirkan-Nya. Dari kota ke kota dan dari desa ke desa, Yesus selalu berjalan sambil terus berbuat baik.
Kisah tentang penyembuhan seorang yang buta sejak lahirnya, sebagaimana yang dinarasikan dalam Injil hari ini (Yoh. 9:1-41), hendak memperlihatkan kepada kita betapa besarnya komitmen Yesus pada karya misi kemanusiaan. Ia selalu berpihak kepada orang-orang kecil dan sederhana. Ia selalu hadir untuk menyembuhkan dan menyelamatkan orang-orang sakit dan menderita. Tanpa banyak kalkulasi untung-rugi, Ia segera menolong, menjamah dan menyembuhkan orang itu.
Meski mendapat banyak gelombang penolakan, cibiran dan kritikan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, namun Yesus tetap berdiri tegak dan fokus pada misi pastoral-Nya untuk membebaskan semua orang. Pada titik inilah, Ia mempertegas diri-Nya sebagai “Terang Sejati” yang datang untuk menyelamatkan dunia. “Selama Aku di dalam dunia, Akulah Cahaya dunia” (Yoh. 9:5).
Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Semoga narasi bacaan-bacaan suci hari ini, menginspirasi sekaligus menggugah nurani kita untuk selalu siap diutus menghadirkan kedamaian dan sukacita, menjadi terang bagi dunia dan sesama. Tuhan senantiasa memberkati kita semua. Amin.
*RD. Ardus Endi adalah Staf Formator Seminari Petrus Van Diepen, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya












