WAISAI, RajaAmpatNews — Pelayanan kesehatan di Puskesmas Waifoi, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, disebut mengalami kendala serius.Kepala Puskesmas Waifoi dilaporkan tidak berada di tempat tugas dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Zakarias Gaman, perawat sekaligus petugas di Puskesmas Waifoi, saat ditemui di Kampung Waifoi. Ia mengaku hingga kini tidak mengetahui secara pasti alasan ketidakhadiran pimpinan fasilitas kesehatan tersebut.
“Kalau sampai tahun ini, kurang lebih sudah satu tahun tidak berada di tempat tugas. Kami juga tidak tahu alasannya apa, mungkin ada informasi yang belum sampai kepada kami,” ujar Zakarias. Kamis, (18/2/2026).
Menurut dia, dalam beberapa waktu terakhir keluhan masyarakat semakin meningkat. Warga mengadukan terbatasnya pelayanan kesehatan akibat minimnya tenaga medis yang tersedia.
“Kami petugas di sini terbatas. Kalau ada pasien di kampung tetangga yang harus dilayani, kami tidak bisa ke sana. Kami harus tetap bertahan di Puskesmas karena tidak ada lagi petugas yang bisa tinggal dan jaga di sini,” katanya.
Saat ini, kata Zakarias, jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Waifoi tercatat enam orang dengan komposisi berbeda-beda, terdiri atas perawat, bidan, dan petugas kesehatan lingkungan (kesling). Namun, tidak ada dokter yang bertugas di fasilitas tersebut.
“Dokter tidak ada. Itu kendala kami di sini. Yang ada hanya perawat dan dua bidan,” ujarnya.
Ketiadaan dokter dan kepala puskesmas berdampak pada pelayanan medis, terutama dalam penanganan kasus yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit. Selain kekurangan tenaga medis, keterbatasan sarana transportasi juga menjadi persoalan serius.
“Kalau ada pasien yang harus dirujuk, kami dan masyarakat kewalahan. Tidak ada speed boat atau mesin untuk mengantar pasien ke rumah sakit,” kata Zakarias.

Ia menambahkan, kondisi geografis wilayah pesisir dan kepulauan membuat akses transportasi menjadi faktor krusial dalam layanan kesehatan. Tanpa dukungan sarana memadai, proses evakuasi pasien sering kali terhambat.
Selain penambahan dokter dan perawat, para petugas juga meminta pemerintah daerah memperhatikan fasilitas pendukung di Puskesmas Waifoi. Bangunan dan sarana kesehatan dinilai perlu dibenahi agar pelayanan dapat berjalan optimal.
“Kami harap ada tambahan dokter dan perawat untuk mengisi di masing-masing kampung. Selain itu, fasilitas puskesmas juga harus dibenahi,” ujarnya.
Masalah perumahan dinas bagi tenaga kesehatan juga menjadi sorotan. Saat ini hanya tersedia dua unit rumah dinas, sementara jumlah petugas mencapai enam orang.
“Perumahan petugas cuma dua, sedangkan petugas ada enam orang. Kadang-kadang ada yang tidur di ruang tamu. Kami berharap pemerintah bisa memberikan fasilitas yang memadai untuk teman-teman kesehatan di Puskesmas Waifoi,” kata Zakarias.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat terkait ketidakhadiran Kepala Puskesmas Waifoi maupun rencana penambahan tenaga dan fasilitas di wilayah tersebut.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













