Kepala Distrik Kota Waisai: Penataan Pinggiran Kali Waisai Wujudkan Kota Wisata Hijau dan Tertib

Dena penataan pinggiran kali Waisai-Raja Ampat
Dena penataan pinggiran kali Waisai-Raja Ampat

Waisai, RajaAmpatNews — Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat melalu Pemerintah Distrik Kota Waisai dan Dinas Pekerjaan Umum mulai melakukan penataan kawasan pinggiran Kali Waisai sebagai langkah awal mewujudkan area terbuka hijau yang tertata rapi dan berdaya guna.

Penataan ini menjadi implementasi langsung dari program Bupati Raja Ampat, Orideko I. Burdam, dan Wakil Bupati Mansyur Syahdan dalam membangun wajah baru Kota Waisai sebagai kota wisata dunia yang bersih, indah, dan berkelanjutan.

Kepala Distrik Kota Waisai, Alfred Suruan, S.STP, mengatakan, setelah relokasi Pasar Lama ke Pasar Baru, pemerintah tidak ingin lahan bekas pasar tersebut terbengkalai. Kawasan itu kini diarahkan menjadi bagian dari ruang terbuka hijau yang menambah daya tarik kota.

“Kita tidak bisa hanya bicara pasar dipindahkan, tapi tempat lama dibiarkan begitu saja. Setelah pasar direlokasi, di tahun yang sama kita langsung bersihkan area pinggiran Kali Waisai agar tertata dan punya nilai manfaat,” ujar Alfred, Senin (19/10/2025), di sela-sela kesibukannya sebagai panitia Kongres II DPD FGM GKI di Tanah Papua.

Penataan kawasan tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Distrik Kota Waisai dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Raja Ampat. Pekerjaan di lapangan diawasi langsung oleh PPTK Dinas PU, Oscar Sauyai, sementara Kepala Distrik Alfred Suruan turut meninjau progres pekerjaan di lokasi.

“Kami di distrik berkolaborasi dengan Dinas PU. Saya memantau langsung bersama Pak Oscar Sauyai selaku PPTK, karena kami ingin memastikan pekerjaan ini berjalan sesuai rencana dan hasilnya benar-benar terlihat,” kata Alfred.

Ia menjelaskan, secara tata ruang, daerah aliran sungai (DAS) seharusnya steril dari aktivitas bangunan dan usaha, minimal dalam radius 20 hingga 50 meter dari tepi kali. Namun kondisi di lapangan sudah banyak bergeser dari ketentuan itu — muncul bangunan liar, kios, dan tempat tinggal warga di sempadan kali.

Menurut Alfred, penataan ini juga merupakan bagian dari konsep besar pengembangan Kota Waisai yang terinspirasi dari penataan sungai di Kendari, Sulawesi Tenggara. Setelah kunjungan kerja ke Kendari, Bupati Orideko Burdam mengadopsi konsep tersebut untuk diterapkan di Waisai.

“Kita akan lakukan pendekatan, sosialisasi, dan edukasi kepada masyarakat agar paham bahwa pinggiran kali ini harus ditata. Raja Ampat dikenal dunia karena keindahannya, dan itu harus terlihat juga di wajah kota Waisai,” tegasnya.

“Pak Bupati melihat di Kendari, pinggiran sungainya tertata indah, ada ruang hijau, jogging track, dan pusat kuliner yang rapi. Konsep itu yang dibawa ke sini. Jadi kawasan Kali Waisai nanti bukan hanya bersih, tapi juga menjadi ruang publik yang nyaman — tempat orang bisa duduk sore hari, menikmati kopi, dan bersantai,” jelasnya.

Alfred menambahkan, penataan kali akan dimulai dari Jembatan Kembar hingga ke Rumah Singgah, dan akan berlanjut ke arah selatan menuju muara. Namun sebelum pekerjaan fisik dimulai, pemerintah memastikan area tersebut harus bebas dari bangunan liar.

“Kami mulai dari kawasan yang aman, dari Jembatan Kembar sampai Rumah Singgah. Beberapa titik masih menunggu peninjauan ulang, terutama di area pasar lama. Kalau semua sudah clear, baru pekerjaan lanjutan dilakukan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keberadaan kontainer atau tempat usaha kecil dan penjual pinang di sepanjang pinggiran kali yang dinilai membuat kawasan terlihat kumuh dan tidak sesuai dengan estetika kota. Karena itu, pemerintah menawarkan solusi relokasi ke tempat yang lebih representatif.

“Kontainer atau tempat usaha dan kios pinang akan kita geser ke lokasi baru di Pasar Senun Bukor. Lahan di sana sudah siap dan bisa menampung seluruh pelaku usaha. Mereka tidak kita hilangkan, hanya kita arahkan agar tertib dan usahanya tetap berjalan,” ungkap Alfred.

Pemerintah bahkan membuka peluang bagi para pedagang untuk beralih ke jenis usaha lain seperti kedai kopi, kuliner, dan usaha kreatif lainnya agar sesuai dengan konsep kawasan wisata hijau.

“Kita tidak melarang mereka berusaha, tapi kita ubah jenis usahanya agar lebih cocok dengan konsep ruang terbuka hijau. Jadi nanti kawasan itu bukan lagi tempat jual pinang, tapi tempat kuliner dan rekreasi,” imbuhnya.

Alfred menegaskan bahwa penataan kawasan Kali Waisai merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan yang akan diteruskan hingga tahun 2026. Pemerintah berkomitmen mewujudkan Waisai sebagai kota wisata yang tertib, hijau, dan ramah bagi semua.

“Inilah wajah baru Kota Waisai yang kita mulai tahun ini dan berkelanjutan di tahun depan. Wajah kota wisata dunia harus dimulai dari kebersihan, ketertiban, dan keindahan ruang publik kita sendiri,” tutup Alfred.

Dengan dimulainya penataan ini, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menandai langkah besar menuju terwujudnya Kali Waisai yang indah, bersih, dan tertata, sekaligus menjadi awal dari upaya bertahap dalam menata wajah Kota Waisai sebagai kota wisata berkelas dunia — kota kecil yang menjadi etalase pertama keindahan Raja Ampat di mata dunia.

Writer: Petrus Rabu