GOW Raja Ampat Sosialisasikan Kesehatan Reproduksi di Ayau: Perkuat Deteksi Dini Kanker dan Kenalkan Program “Catin Sehat, Keluarga Kuat”

Ayau, RajaAmpatNews— Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Raja Ampat bersama Dinas Kesehatan terus memperluas edukasi kesehatan hingga ke wilayah kepulauan. Bertempat di Kampung Dorekhar, Distrik Kepulauan Ayau, kegiatan sosialisasi kesehatan reproduksi kembali digelar pada Senin (1/12/2025) lalu dan mendapatkan antusiasme besar dari masyarakat setempat.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua GOW Raja Ampat, Habiba Tamima, S.Tr.Keb., MM, yang juga menjadi salah peserta Diklat Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) kerja sama Pemda Raja Ampat dan LAN RI Regional Makassar. Dalam kesempatan tersebut, Habiba memberikan penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, serta layanan Keluarga Berencana (KB) yang seluruhnya dapat diakses secara gratis.

Habiba menekankan bahwa perempuan harus berani memeriksakan diri sejak dini, sebab deteksi cepat akan memberikan peluang besar untuk mencegah penyakit berbahaya. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas layanan kesehatan hingga wilayah 3T, termasuk Ayau yang berada di kawasan pulau-pulau.

Di hadapan para perempuan, remaja putri, dan calon pengantin, Habiba juga memperkenalkan program inovatif yang ia gagas melalui Aksi Perubahan dalam PKP, yaitu “Catin Sehat, Keluarga Kuat (TEKAD)”. Program ini dirancang sebagai layanan pranikah terpadu yang menyasar seluruh calon pengantin dengan memberikan edukasi kesehatan, tes pemeriksaan kesehatan reproduksi, imunisasi pranikah, hingga konseling pasangan secara terstruktur. Menurutnya, calon pengantin adalah gerbang utama dalam menciptakan generasi keluarga yang sehat, sehingga intervensi pranikah jauh lebih efektif untuk mencegah penyakit, komplikasi kehamilan, hingga stunting.

Dirinya menjelaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan besar di Raja Ampat. Berdasarkan data e-PPGBM, prevalensi stunting pada tahun 2024 mencapai 20,4% atau 338 anak dan meningkat menjadi 22,85% pada 2025 hingga Triwulan II. Angka wasting dan underweight juga bertambah, sementara kasus kematian neonatal mencapai delapan kasus. Meski angka kematian ibu menunjukkan tren baik dengan nol kasus pada 2025, kondisi kesehatan anak-anak memberi sinyal kuat bahwa intervensi kesehatan harus dilakukan lebih awal, bahkan sebelum pasangan memasuki pernikahan.

Selain itu, tingginya angka pernikahan menjadi alasan lain mengapa layanan pranikah harus diperkuat. Tahun 2024 tercatat 882 pasangan menikah, dan hingga September 2025 mencapai 456 pasangan. Banyak di antaranya berlangsung di luar KUA melalui gereja maupun adat, sehingga program pranikah perlu menjangkau lintas agama dan wilayah kepulauan. Melalui program TEKAD, layanan yang sebelumnya bersifat insidental kini disusun secara terintegrasi dengan melibatkan puskesmas, KUA, gereja, pengurus adat, serta berbagai lembaga terkait. Para calon pengantin akan memperoleh edukasi melalui leaflet, poster, dan presentasi digital, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi, imunisasi pranikah, dan konseling berbasis budaya serta agama. Layanan ini juga didukung mobile clinic dan telekonseling agar dapat menjangkau wilayah terpencil.

Program TEKAD dipersiapkan menjadi bagian dari perencanaan daerah melalui integrasi ke RPJMD dan APBD serta penyusunan roadmap dan replikasi layanan ke berbagai puskesmas. Beberapa puskesmas akan dijadikan percontohan sebelum diperluas ke seluruh distrik. Habiba berharap inisiatif ini dapat menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya keluarga dan generasi yang lebih sehat di Raja Ampat. Ia menegaskan bahwa ketika calon pengantin dibekali pengetahuan dan pemeriksaan sejak dini, mereka memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih baik dalam memasuki pernikahan.

Melalui sosialisasi di Ayau ini, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kesehatan reproduksi dan layanan pranikah yang mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif warga, program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menurunkan stunting dan meningkatkan ketahanan keluarga di masa depan.

Writer: Petrus Rabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *