WAISAI, RajaAmpatNews – Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menggelar Pelatihan Pengemasan dan Branding Produk bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Orang Asli Papua (OAP). Kegiatan berlangsung di Aula Puyakha Mengge dengan melibatkan 30 pelaku usaha dari berbagai distrik, Senin,(17/11/2025).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Raja Ampat, Fransiska Y. Wanma, mengatakan bahwa pelatihan ini penting untuk meningkatkan kualitas produk UMKM OAP, terutama dalam hal pengemasan dan pembangunan identitas merek. Ia menilai sebagian besar pelaku BUMKM OAP selama ini masih memproduksi barang secara sederhana tanpa sentuhan branding yang kuat.
“Kita tahu banyak BUMKM orang asli Papua, tetapi produksi mereka masih seperti apa adanya. Karena itu, mereka sengaja kami latih supaya ke depan mereka memiliki brand new product dengan kekhasan lokal,” ujar Wanma.
Ia menambahkan bahwa potensi terbesar UMKM OAP adalah penggunaan bahan baku lokal yang unik dan tidak ditemukan di daerah lain.

Menurutnya, produk-produk UMKM OAP memiliki ciri khas kuat yang harus dimunculkan dalam branding, salah satunya melalui penggunaan daun atau material alami yang menjadi identitas budaya Papua. “ tegasnya.
Wanma menjelaskan bahwa peserta pelatihan kali ini didominasi oleh pelaku usaha kuliner. Fokus pengembangan pada sektor kuliner dianggap penting karena produk makanan khas dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan maupun pendatang yang tiba di Raja Ampat. “Ketika bus atau kapal datang, mereka harus punya oleh-oleh khas Raja Ampat,” katanya.
Saat ini, Dinas Koperasi dan UKM telah memetakan sekitar 13 titik UMKM yang menjadi fokus pendampingan. Ke depan, pemerintah berharap titik pembinaan tersebut dapat bertambah sehingga setiap distrik memiliki produk unggulan.
Terkait kendala pemasaran, Wanma mengakui bahwa hingga kini UMKM masih menunggu kepastian lokasi penempatan produk di area pelabuhan. Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pengelola fasilitas pelabuhan namun masih menunggu penetapan lokasi resmi.

“Kami berharap nanti diberikan ruang khusus agar produk UMKM bisa dipromosikan di pelabuhan,” ujarnya.
Dinas Koperasi dan UKM juga menegaskan bahwa pelatihan serupa tidak berhenti tahun ini saja. Mereka menargetkan pelatihan berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak peserta dan jenis usaha, termasuk kerajinan tangan serta produk non-kuliner lainnya.
“Harapan kami ini terus berlanjut. Tahun ini 30 peserta, tahun depan harus lebih banyak lagi dan menjangkau semua titik UMKM di Raja Ampat,” tutup Fransiska Wanma.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu












