RAJA AMPAT – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian Komoditas, Produk, dan Jenis Usaha (KPJU) Unggulan Kabupaten Raja Ampat Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Bappeda Kabupaten Raja Ampat, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi potensi komoditas, produk, dan jenis usaha yang berpeluang menjadi unggulan daerah, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sesuai dengan karakteristik ekonomi Kabupaten Raja Ampat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Raja Ampat, Yusuf Salim, dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua Barat Daya dan LPPM UNIPA atas inisiatif serta kerja sama dalam pelaksanaan penelitian tersebut.

Menurut Yusuf, Raja Ampat memiliki karakteristik ekonomi yang khas sebagai wilayah kepulauan dengan kekayaan bahari yang dikenal hingga tingkat dunia. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan berbagai sektor, mulai dari pariwisata, perikanan, pertanian, hingga ekonomi kreatif.
Namun, di balik besarnya potensi tersebut, Raja Ampat masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan konektivitas antarpulau, tingginya biaya logistik, akses permodalan, serta kebutuhan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas sumber daya manusia.
“Pengembangan UMKM dan perekonomian daerah tidak dapat dilakukan secara seragam. Kebijakan harus bertumpu pada data yang akurat serta memperhatikan kondisi wilayah, kearifan lokal, dan daya dukung lingkungan,” ujar Yusuf.
Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Raja Ampat harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian laut dan alam yang menjadi modal utama daerah, terutama bagi sektor pariwisata dan kehidupan masyarakat setempat.
Karena itu, penelitian KPJU Unggulan dinilai strategis untuk menentukan komoditas, produk, dan jenis usaha yang paling potensial dikembangkan sesuai karakteristik serta kebutuhan masyarakat Raja Ampat.

Yusuf juga mengharapkan perangkat daerah, lembaga perbankan, asosiasi usaha, pelaku UMKM, pengelola homestay, serta mitra pembangunan dapat memberikan data dan pengalaman lapangan secara terbuka dan objektif. Masukan tersebut diperlukan untuk memastikan hasil penelitian benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi di tingkat kampung dan distrik.
Hasil diskusi diharapkan menjadi rujukan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah, penyusunan program pemberdayaan UMKM, serta penguatan kemitraan dengan perbankan dan mitra pembangunan lainnya agar program yang dijalankan tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Setelah sambutan Sekda, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber dari tim peneliti LPPM UNIPA, Bayu Pranata. Dalam pemaparannya, Bayu Pranata menjelaskan bahwa penelitian KPJU Unggulan merupakan bentuk kerja sama antara Universitas Papua dan Bank Indonesia untuk mengidentifikasi potensi ekonomi daerah, khususnya komoditas, produk, dan jenis usaha yang berpeluang dikembangkan sebagai unggulan UMKM di Kabupaten Raja Ampat.

Ia menjelaskan, penelitian tersebut merupakan bagian dari upaya menyediakan informasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam menentukan arah pengembangan ekonomi lokal.
Menurut Bayu, Papua memiliki potensi ekonomi yang besar dan beragam, tidak hanya pada satu sektor, tetapi juga mencakup perikanan, pertambangan, kehutanan, serta berbagai sektor usaha lainnya. Keragaman potensi itu membutuhkan strategi pengembangan UMKM yang terarah dengan memperhatikan komoditas, produk, dan jenis usaha yang paling potensial di setiap daerah.
Oleh karena itu, ketersediaan data yang akurat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kebijakan dan strategi pembangunan ekonomi yang berkesinambungan.
Bayu menerangkan bahwa Bank Indonesia melaksanakan penelitian untuk memetakan potensi ekonomi lokal melalui kajian yang dikenal sebagai Local Economic Survey (LES). Penelitian tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi suatu daerah sekaligus memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan mengenai komoditas, produk, dan jenis usaha yang layak diprioritaskan untuk dikembangkan.
Melalui hasil penelitian ini, pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai peluang ekonomi yang dapat dikembangkan berdasarkan potensi dan kondisi daerah masing-masing.
Dalam pemaparannya, Bayu juga menjelaskan bahwa penelitian KPJU Unggulan mencakup empat aspek utama.

Pertama, aspek makro yang meliputi kebijakan pemerintah pusat dan daerah serta potensi ekonomi wilayah. Kedua, aspek mikro yang berkaitan dengan kondisi dan potensi usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ketiga, aspek data dan informasi yang berkaitan dengan sektor usaha UMKM. Keempat, aspek diseminasi hasil penelitian agar informasi yang diperoleh dapat disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian diharapkan dapat dipublikasikan melalui kanal informasi UMKM dan situs resmi Bank Indonesia sehingga dapat diakses oleh para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan lembaga perbankan.
Dengan keterbukaan informasi tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen kajian, tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program pengembangan usaha, memperluas akses pembiayaan, dan memperkuat daya saing produk lokal.
Bayu turut menyoroti peran UMKM sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa UMKM mendominasi jumlah unit usaha di Indonesia dan berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja serta pembentukan produk domestik bruto (PDB).
Ia menekankan bahwa UMKM memiliki cakupan usaha yang luas dan dapat berkembang di berbagai sektor, termasuk pengolahan hasil perikanan, pertanian, dan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.
Pengolahan bahan baku lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dinilai dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat perekonomian daerah.
Dalam konteks Raja Ampat, identifikasi komoditas dan jenis usaha unggulan diharapkan membantu pemerintah dan para pemangku kepentingan menentukan sektor yang perlu diprioritaskan, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik wilayah kepulauan dan kelestarian lingkungan.
Melalui penelitian KPJU Unggulan Tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat diharapkan memperoleh rekomendasi berbasis data untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, memperkuat UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Ahli bupati Bidang Pembangunan Yoseph Latuihamallo, Kepala Dinas Pariwisata Klasina Rumbekwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Iskandar Urbinas, Kepala Dinas Perikanan Muhammad Said Soltief, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Viktor Manuel Dimara, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Marthen Luther R. Bartholomeus.
Hadir pula Ketua Program Studi D3 Ekowisata Kampus UNIPA Raja Ampat Novelina Tampubolon, tim peneliti, dan sejumlah undangan lainnya.












