RAJA AMPAT– Umat Katolik di Waisai, Kabupaten Raja Ampat, diajak merenungkan nilai kerendahan hati dan pengorbanan dalam perayaan Kamis Putih yang berlangsung khidmat di Gereja Katolik Stasi Sta. Maria Mater Dei, Kamis (2/4/2026). Misa dipimpin oleh Pastor Max Pegan, Pr, yang dalam homilinya menegaskan pentingnya meneladani sikap Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Kamis Putih ditandai dengan dua ritus utama, yakni pembasuhan kaki dan peringatan Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Dalam prosesi pembasuhan kaki, Pastor Max Pegan membasuh kaki 12 umat sebagai perwakilan dari lingkungan, melambangkan 12 murid Yesus.
Dalam homilinya, Pastor Max Pegan mengajak umat merefleksikan peristiwa Minggu Palma, ketika Yesus disambut meriah saat memasuki Kota Yerusalem layaknya seorang pahlawan. Namun, di tengah sambutan itu, Yesus justru menunjukkan teladan berbeda dengan merendahkan diri dan melayani para murid-Nya.
“Apa yang dilakukan Yesus pertama kali bukan menunjukkan kuasa, tetapi justru membasuh kaki para murid. Di situlah letak kebesaran sejati, yakni dalam kerendahan hati,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada masa itu pembasuhan kaki merupakan tugas seorang hamba. Namun Yesus, yang dipuji sebagai raja dan guru, justru mengambil posisi paling rendah sebagai bentuk pelayanan.
“Ini bukan sekadar simbol, tetapi tindakan nyata pengorbanan total. Yesus merendahkan diri secara radikal demi keselamatan manusia,” kata Pastor Max Pegan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pengorbanan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Orang tua berkorban demi anak, pekerja berjuang demi keluarga, hingga setiap pribadi yang rela menahan diri demi kebaikan bersama.

Menurutnya, puncak pengorbanan Kristus terungkap dalam Perjamuan Terakhir, ketika Ia mengajarkan para murid untuk saling melayani dan berkorban. “Tuhan turun supaya manusia dapat naik kepada-Nya. Jalan itu adalah pengorbanan,” ungkapnya.
Pastor Max Pegan juga mengingatkan umat agar tidak menghindari tanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif, saling mendengar, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan stasi maupun lingkungan.
“Jangan saling menunggu atau melempar tanggung jawab. Gereja bertahan karena umatnya mau berhimpun, saling menghargai, dan rela berkorban,” tegasnya.
Menutup homili, ia mengajak umat untuk meneladani Kristus melalui sikap rendah hati dan semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. “Berkorban bukan hanya tanda kerendahan hati, tetapi jalan menuju keselamatan,” tutupnya.
Perayaan Kamis Putih ini menjadi momentum refleksi iman bagi umat Katolik di Waisai untuk memperdalam makna pelayanan dan memperkuat komitmen dalam hidup berbagi serta melayani sesama.
Writer: Petrus Rabu












