Salawati, RajaAmpatNews – Badaruddin Mayalibit melaksanakan Reses I Tahun 2026 di Kampung Samate dan Kampung Waidim, Distrik Salawati Utara, Kabupaten Raja Ampat, Senin (16/2/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat, terutama di sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Dalam dialog terbuka yang berlangsung hangat dan partisipatif, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan prioritas kampung. Mulai dari pengembangan perkebunan kopi rakyat sebagai program pemberdayaan ekonomi berbasis kampung, hingga penyediaan transportasi sekolah dan perbaikan fasilitas layanan dasar.
Badaruddin menegaskan bahwa reses merupakan kewajiban konstitusional anggota legislatif untuk turun langsung ke daerah pemilihan guna mendengar dan memperjuangkan aspirasi rakyat.
“Saya hadir untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Semua aspirasi ini akan kami bawa dan perjuangkan dalam pembahasan bersama pemerintah daerah,” ujar Badaruddin, Kamis (19/2/2026).

Salah satu aspirasi utama warga Kampung Samate dan Kampung Waidim adalah pengembangan perkebunan kopi rakyat. Masyarakat mengusulkan penyediaan lahan seluas 5 hingga 10 hektare untuk dijadikan kebun kopi, lengkap dengan dukungan pembiayaan mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, hingga masa persiapan panen.
Menurut warga, komoditas kopi memiliki prospek ekonomi jangka panjang dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di Distrik Salawati Utara.
Menanggapi hal tersebut, Badaruddin menilai program kopi rakyat sejalan dengan semangat Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang menitikberatkan pada penguatan ekonomi kerakyatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat asli Papua.
“Dana Otsus diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Jika direncanakan dengan matang dan berkelanjutan, program kopi rakyat ini bisa menjadi model ekonomi kampung yang mandiri,” katanya.
Ia menambahkan, DPRK akan mendorong agar program tersebut masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah serta disinergikan dengan dinas teknis terkait, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan.

Selain sektor ekonomi, kebutuhan transportasi darat bagi anak-anak sekolah menjadi aspirasi yang paling mendesak. Warga menyampaikan bahwa akses menuju sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMK, masih menjadi kendala karena jarak tempuh yang cukup jauh.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada tingkat kehadiran dan motivasi belajar siswa. Masyarakat berharap adanya pengadaan kendaraan operasional sekolah yang dapat digunakan secara rutin untuk antar-jemput siswa.
“Transportasi untuk anak sekolah ini sangat penting. Pendidikan adalah investasi masa depan. Kami akan mendorong agar ini menjadi prioritas dalam pembahasan anggaran,” tegas Badaruddin.
Di sektor pendidikan, warga juga mengusulkan rehabilitasi sejumlah Ruang Kelas Belajar (RKB) yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Perbaikan dinilai penting agar proses belajar-mengajar berlangsung aman dan nyaman.
Pada bidang kesehatan, masyarakat meminta perhatian terhadap kondisi rumah tinggal tenaga kesehatan (nakes). Fasilitas tempat tinggal yang layak dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan pelayanan kesehatan di kampung.
“Tenaga kesehatan adalah garda terdepan pelayanan di kampung. Jika fasilitas tempat tinggal mereka tidak layak, tentu akan berdampak pada kualitas pelayanan,” ungkap salah seorang warga dalam dialog tersebut.
Menanggapi hal itu, Badaruddin menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan peningkatan sarana pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia di Raja Ampat.
Sebagai pimpinan DPRK, ia memastikan seluruh aspirasi yang diserap akan dirangkum dalam laporan resmi reses dan disampaikan dalam forum pembahasan bersama pemerintah daerah, sehingga dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan dan penganggaran yang tepat sasaran.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













