Waisai, RajaAmpatNews – Konservasi Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian ekosistem laut Raja Ampat melalui pemasangan Mooring Buoy atau tambatan kapal ramah lingkungan.
Hal tersebut disampaikan oleh Meizani Irmadhiany, Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, saat menghadiri kegiatan pemasangan Mooring Buoy di Kampung PAM, Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Rabu, (21/ 1 / 2026).
Kegiatan pemasangan Mooring Buoy tersebut dilaksanakan oleh BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat dan turut dihadiri langsung oleh Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Meizani Irmadhiany menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Raja Ampat, tokoh adat, serta pemerintah daerah yang selama ini telah menjaga kelestarian alam secara turun-temurun.
“Raja Ampat ini sudah terjaga dari generasi ke generasi oleh masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah. Kami bangga bisa menjadi mitra di sini dan turut mendukung upaya pelestarian,” ujarnya.

Meizani juga berbagi pengalamannya saat melakukan penyelaman di sejumlah lokasi yang telah dipasang Mooring Buoy, seperti di Mioskon dan Friwen pada tahun 2024 lalu.
Menurutnya, keindahan terumbu karang Raja Ampat bukan hanya penting bagi sektor pariwisata, tetapi juga memiliki peran vital bagi perlindungan pesisir dan kehidupan masyarakat lokal.
“Kawasan ini bukan hanya soal wisata. Terumbu karang penting untuk perlindungan pesisir dan keberlanjutan masyarakat. Bahkan di tahun 2024 saya sempat melihat paus sperma melintas di Selat Dampier. Ini menunjukkan betapa unik dan kayanya mega fauna di Raja Ampat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Raja Ampat telah mendapatkan berbagai pengakuan global, di antaranya sebagai UNESCO Global Geopark dan Cagar Biosfer UNESCO, serta meraih penghargaan Gold Award pada UN Ocean Conference tahun 2022.
“Raja Ampat ini sangat spesial, bukan hanya lautnya, tapi juga hutan, sungai, dan seluruh ekosistem alamnya. Bahkan keanekaragaman hayatinya di darat, seperti burung cenderawasih, juga luar biasa,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Meizani menjelaskan bahwa pemasangan Mooring Buoy di Raja Ampat didukung oleh Global Fund for Coral Reefs (GFCR), sebuah konsorsium global untuk perlindungan terumbu karang dunia. Program ini merupakan bagian dari TECSI (Terumbu Karang Sehat Indonesia), dan Raja Ampat menjadi salah satu lokasi prioritas, bahkan disebut sebagai program percontohan pertama yang didukung oleh koalisi global tersebut.
Pasca pandemi COVID-19, Konservasi Indonesia juga turut mendukung pemulihan sektor pariwisata Raja Ampat sejak 2021–2022, termasuk pemulihan sekitar 150 homestay, kerja sama dengan asosiasi kapal wisata, serta dukungan terhadap 41 resort yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Pasca pandemi, jumlah kunjungan wisatawan meningkat signifikan. Tahun 2023 tercatat sekitar 25 ribu wisatawan, dan pada 2025 diproyeksikan mencapai 39 ribu wisatawan. Ini peningkatan hampir 100 persen dalam dua tahun,” jelas Meizani.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kunjungan wisata juga membawa tantangan besar, terutama terhadap tekanan ekosistem laut. Masalah pembuangan jangkar, kapal kandas, penumpukan wisata di satu lokasi, serta praktik wisata yang tidak ramah lingkungan menjadi ancaman serius bagi terumbu karang.
“Dari total 2,7 juta hektare wilayah Raja Ampat, sebagian besar tekanan wisata terjadi di Selat Dampier dan Kepulauan Fam. Praktik wisata yang tidak ramah lingkungan, termasuk pembuangan sampah dan limbah cair, perlu menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Writer: Doni Kumuai II Editor: Petrus Rabu













