WAISAI,RajaAmpatNews– Ketua Generasi Muda Pejuang Hak Adat Papua (GEMPHA) Papua Barat Daya, Rojer Mambraku, meminta Dinas Pertanian Kabupaten Raja Ampat, melalui bidang pangan agar lebih serius memastikan ketersediaan stok bahan pangan yang bersumber dari petani lokal di Kabupaten Raja Ampat. Ia menilai, ketahanan pangan daerah harus bertumpu pada kekuatan produksi masyarakat setempat, bukan bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Rojer menegaskan, ketersediaan pangan yang stabil dan terjangkau di Kota Waisai serta distrik-distrik di Raja Ampat hanya dapat terwujud apabila pemerintah daerah melakukan pembinaan secara berkelanjutan kepada para petani.
Menurutnya, sektor pertanian lokal memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar, asalkan mendapat pendampingan yang tepat.
“Dinas Pertanian wajib memberikan bekal pembinaan kepada petani lokal di Raja Ampat. Jika petani didampingi dengan baik, maka bahan pangan lokal dapat memenuhi kebutuhan pasar di Waisai. Ini penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada pasokan dari luar,” ujar Rojer. Rabu,(14/1/2026).

Ia menilai selama ini masih banyak petani yang bekerja secara mandiri tanpa pendampingan teknis yang memadai. Akibatnya, hasil produksi belum maksimal, baik dari sisi kualitas, kuantitas, maupun kesinambungan pasokan. Padahal, menurut Rojer, sektor pertanian merupakan tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Lebih lanjut, Rojer menekankan pentingnya peran aktif pemerintah dalam mendampingi petani, mulai dari tahap perencanaan hingga pemasaran hasil panen. Ia meminta Dinas Pertanian untuk turun langsung ke lapangan, mendata kondisi petani, jenis komoditas yang ditanam, serta kendala yang dihadapi.
“Petani-petani itu, punya kebutuhan. Sayur-sayur apa yang mereka tanam, bagaimana cara meningkatkan hasil, itu semua harus dijawab dengan pendampingan. Pemerintah harus hadir, baik untuk petani di Kota Waisai maupun yang ada di distrik-distrik,” tegasnya.
Menurut Rojer, pendampingan tidak boleh berhenti pada proses produksi semata. Pemerintah juga harus membantu petani dalam hal distribusi dan pemasaran hasil pertanian. Tanpa sistem distribusi yang jelas, hasil panen petani berisiko tidak terserap di pasar atau bahkan terbuang.
“Ketika hasilnya ada, bagaimana caranya mereka mendistribusikan? Itu juga menjadi tugas pemerintah. Supaya masyarakat tahu bahwa di Waisai dan Raja Ampat, walaupun pertaniannya kecil, tetapi ada hasil yang bisa dinikmati,” katanya.
Rojer menilai bahwa fokus utama Dinas Pertanian seharusnya diarahkan pada penguatan sektor pangan lokal. Ia meminta agar program-program dinas tidak bersifat setengah-setengah, melainkan memiliki fokus yang jelas dan terukur pada ketahanan pangan daerah.

“Karena ini dinas, harus fokus. Jangan setengah-setengah. Harus ada bidang khusus yang betul-betul menangani pangan. Pertanyaannya jelas, bagaimana ketahanan pangan di Raja Ampat ke depan?” ujarnya.
Ia menambahkan, ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut kedaulatan petani lokal, kesejahteraan masyarakat, serta keberlanjutan ekonomi daerah.
Dengan memberdayakan petani lokal, pemerintah daerah tidak hanya menjamin pasokan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Rojer berharap Dinas Pertanian Kabupaten Raja Ampat, segera menyusun langkah strategis yang melibatkan petani secara langsung, mulai dari pembinaan teknis budidaya, penyediaan sarana produksi, hingga penguatan akses pasar.
Ia juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan para pemangku kepentingan lainnya.
“Jika kita fokus pada pangan lokal, kita tidak hanya membangun ketahanan pangan, tetapi juga membangun kemandirian Raja Ampat. Petani kita harus menjadi tuan di negeri sendiri,” pungkas Rojer.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













