Noberta Edoway: Perjuangan Perempuan Papua Menyulam Harapan Melalui Noken di Raja Ampat

banner 120x600

WAISAI, Raja Ampat News – Di bawah terik matahari kawasan Tugu Lumba-Lumba atau di Kompleks Taman Hutan Rakyat (Tahura) Kota Waisai, Ibukota Raja Ampat, Rabu, (26/11/2025), seorang perempuan Papua duduk teduh di bawah pohon kecil, ditemani payung dan gulungan serat kulit kayu yang tengah ia sulam.

Ia adalah Noberta Edoway, perempuan asal Nabire yang memilih hijrah ke Raja Ampat demi mempertahankan hidup melalui sebuah warisan budaya: noken.

Didampingi kerabatnya, Regina Pekey, Noberta bercerita tentang perjalanan hidup yang mengajarkannya bahwa kerja keras adalah jalan utama untuk bertahan.

“Hidup memang tidak mudah. Kita harus berjuang dan cari peluang,” ucapnya sambil terus menganyam serat-serat noken yang menjadi sumber penghidupannya.

Noberta Edoway saat menjual noken di Taman Hutan Rakyat-Kota Waisai, Raja Ampat/Dok. RajaAmpatNews

Hijrah dari Nabire, Bertahan dengan Noken

Noberta mulai berjualan pada tahun 2021 setelah menyelesaikan pendidikan. “Selesai sekolah, pemerintah tidak perhatikan saya. Jadi saya usaha ambil kulit kayu dan buat noken,” ujarnya.

Ia pernah menjual sayuran dan bumbu dapur, tetapi kini hanya fokus pada noken. Semua noken dibuat sendiri dengan berbagai ukuran dan motif. Harganya bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp600 ribu.

Pendapatan inilah yang menopang kehidupan keluarganya. “Dari jual noken bisa biayai sekolah anak-anak, bangun rumah. Semua dari hasil ini,” katanya.

Raja Ampat Memberi Harapan Baru

Hijrah ke Raja Ampat terjadi tanpa rencana panjang. Ia mengikuti anak angkatnya yang menjadi guru di Waisai. “Kami ikut saja, dan mulai jual noken di sini,” tuturnya.

Baru sebulan lebih berjualan, hasilnya sangat terasa. “Di sini pemasukannya bagus. Sehari bisa dapat 400–500 ribu. Kalau di Nabire, paling 50–100 ribu,” jelasnya.

Ia merencanakan untuk bolak-balik Nabire–Raja Ampat, terutama setelah Natal.

Suka Duka dan Buah Ketekunan

Meski harus duduk berjam-jam di bawah cuaca panas, Noberta selalu bersyukur. “Senangnya, dari jual noken saya bisa bangun rumah sendiri. Biayai anak kuliah kesehatan di Jawa, ada tiga anak,” ujarnya bangga.

Setiap noken yang terjual menjadi bukti ketekunan sekaligus sumber harapan bagi keluarganya.

Pesan untuk Perempuan Papua Muda

Melalui kisah hidupnya, Noberta memberi pesan untuk generasi muda perempuan Papua.

“Manfaatkan waktu muda untuk kreatif. Yang sekolah, sekolah. Yang tak sempat sekolah bisa buat noken atau kerajinan dari bahan lokal. Bisa dipasarkan di media sosial, anak-anak muda kan pintar pakai android,” pesannya.

Ia juga berharap pemerintah menyediakan lebih banyak pelatihan keterampilan.

Noken: Identitas, Ekonomi, dan Warisan Dunia

Kisah Noberta menggambarkan bahwa noken bukan sekadar kerajinan tangan, tetapi jalan hidup dan simbol ketangguhan perempuan Papua. Terlebih, noken telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, sebuah pengakuan internasional yang membuka peluang ekonomi jauh lebih besar bagi para perajin.

Dengan semakin banyaknya wisatawan dan meningkatnya nilai budaya noken, usaha seperti yang dilakukan Noberta memiliki masa depan yang cerah.

Noken tidak hanya menjaga identitas Papua, tetapi juga menjadi sumber ekonomi yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal—sebuah peluang yang kini mulai ia rajut helai demi helai di sudut kecil Raja Ampat.

Writer: Petrus Rabu